Petani Batola pertahankan Tanam Padi Lokal

oleh -707 views
Tampak Karli Hanafi berbincang dengan petani yang sedang menjemur padi lokal jenis karang dukuh di Desa Puntik Dalam, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Batola.

BANJARMASIN, Kalselpos.com – Karena kondisi alam, sebagian besar petani di Kabupaten Barito Kuala (Batola) memilih bertahan dengan menanam padi lokal seperi karang dukuh, siam unus, siam mutiara, dan lain-lain yang sejenisnya dibandingkan menanam padi unggul.

Demikian kesimpulan hasil reses anggota DPRD Provinsi Kalsel, DR.H.Karlie Hanafi Kalianda, SH.MH, selama 3 hari dari tanggal 24 – 26 Februari 2019 di enam desa di wilayah Kabupaten Barito Kuala, yaitu Desa Cahaya Baru, Desa Sampurna, Desa Sungai Pantai, Desa Pindahan Baru, Desa Puntik Tengah, dan Desa Puntik Dalam.

“Sebagian besar petani di enam desa tempat saya reses, mempertahankan bertani padi lokal, terutama karena faktor alam, yaitu tanah yang rendah dan sulit air untuk padi unggul atau tanaman jenis lain,” ujar Karlie Hanafi kepada awak media belum lama ini.

Baca Juga ==>HSS Kembangkan Padi Organik‎

Karlie menambahkan,karena faktor alam itu, banyak petani bertahan untuk menanam padi lokal yang panennya sekali setahun, sedangkan hasilnya hanya cukup untuk keperluan sendiri saja. “Kalau pun ada lebihnya itu pun tidak banyak,” terang politisi Golkar ini mengutip keterangan para petani

Selain itu, warga juga mengeluhkan mahalnya harga pupuk non subsidi, sedangkan pupuk yang bersubsidi suplainya selalu tidak tepat waktu. “Disaat masyarakat memerlukan pupuk subsidi itu tidak ada, dan pada saat mendekati masa panen justru pupuk baru datang, padahal sudah kurang diperlukan lagi,” keluhnya

Untuk itu, masyarakat melalui Karlie saat reses, mengharapkan agar bisa memperjuangkan agar pupuk bersubsidi bisa disuplai tepat waktu, yaitu saat memang benar-benar diperlukan. “Masyarakat juga berharap agar ada pengawasan terhadap distribusi pupuk ke masyarakat, termasuk harganya,” beber Karlie

Saat ini, menurut keterangan warga di 6 desa tersebut harga pupuk bersubsidi mencapai Rp 95.000 sampai Rp100.000 per 50 kg untuk urea bersubsidi, sedangkan yang non subsidi mencapai Rp290.000 sampai Rp300.000 per satu kwintal.

Selain masalah pupuk, sambung Karlie masyarakat di 6 desa yang mayoritas memang bermatapencaharian sebagai petani itu juga mengeluhkan berbagai gangguan mulai dari hama wereng, tungro, tikus sawah sampai serangan kera atau monyet liar yang sangat mengganggu aktivitas pertanian hingga permukiman warga.

Baca Juga ==>HSS Kembangkan Padi Organik‎

Disamping itu warga juga mengharapkan adanya perbaikan dan peningkatan serta penyiringan, jalan, jembatan di wilayah mereka. “Saat ini sebagian besar jalan masih merupakan jalan yang lama yaitu jalan desa yang kondisinya sebagian besar sudah mulai rusak,” terangnya

Terhadap berbagai aspirasi dan keluhan warga tersebut, Karli dari daerah pemilihan Kabupaten Barito Kuala ini mengatakan akan membawa permasalahnya sesuai dengan kewenangan yaitu ke tingkat kabupaten Batola maupun di perjuangkan ke institusi berwenang di Pemprov Kalsel. “Secara khusus hasil reses ini akan saya laporkan secara resmi ke lembaga DPRD Kalsel,” pungkas Karlie Hanafi.

Penulis : Sidik Alfonso
Editor : Aspihan Zain
Penanggungjawab : SA Lingga

Pembaca setia kalselpos.com download aplikasi versi android kami di Play Store ==>
Aplikasi Kalselpos.com

Slider