Benarkah Ada Kebangkitan Islam Radikal?

oleh -691 views
Randu Alamsyah

Apakah pada akhirnya, ada orang–entah ulama, entah cendekiawan, wartawan, pemerhati sosial-keagamaan, siapa saja–yang bisa membawa pemahaman kita naik lebih tinggi lagi daripada apa yang kita dengar dari Pak Wiranto, Pak AM Hendropriyono itu? Kebangkitan islam radikal ini seperti hantu, nyaris semua mengaku pernah mendengar tapi tidak ada yang bisa membuktikannya.

Celakanya, sebagai hantu, ini adalah cerita yang terus menerus diproduksi demi motivasi politik tertentu, agar orang-orang percaya. Dan ya, lumayan berhasil sejauh ini. NU misalnya akhirnya merasa harus turun gelanggang politik dengan alasan darurat: takut negara dikuasai islam radikal, pancasila nanti diganti khilafah, dll. Dalam sebuah video yang beredar seorang Kyai NU mengajak orang untuk mendukung Jokowi karena jika kompetitornya yang terpilih, maka kaum radikal akan berkuasa, tak akan ada hari santri dan zikir di istana negara…

Tentu saya tidak bermaksud menyederhanakan masalah atau melakukan pengabaian. Ya, kita harus akui, kecenderungan kepada agama dan konservatisme memang meningkat, dan di masyarakat ada juga intoleransi dan rasisme, tapi untuk disimpulkan sebagai kebangkitan kaum Radikal dan kelompok islam garis keras? Saya kira itu lompatan penalaran yang perlu diuji.

Dalam penalaran ada yang namanya reductio ad absurdum. Penarikan kesimpulan dari sesuatu yang tidak berhubungan langsung, sehingga jatuhnya malah agak absurd. Misalnya, es krim bisa bikin gemuk, dan gemuk membuat orang rentan sakit jatung, dan sakit jantung adalah pembunuh nomor satu. Lalu ditarik kesimpulan: es krim adalah pembunuh nomor satu.

Ada baiknya, meski agak repot, kita harus mengurai benang kusut diskursus kebangkitan Kaum Radikal ini. Hasilnya bisa sepadan. Kegagalan pemerintah Jokowi, menurut saya, salah satunya karena tidak mau repot-repot memahami ini. Pemerintah akhirnya gak bisa membedakan mana yang kesalehan, mana yang berlebihan, mana yang bermaksud hidup secara islami, mana yang kecewa secara politis, dll–semuanya diklaster dalam satu keranjang yang sama dan kemudian–secara ceroboh–dilabeli radikal.

Bagaimana jika yang terjadi adalah orang-orang ini hanya ingin menjalankan keyakinan mereka. Mereka memakai pakaian di atas mata kaki, mengenakan jilbab panjang, menjauhi utang bank, membatasi pergaulan sosial, menolak pacaran, mengkritik BlackPink, dll –karena bermaksud hidup menurut tuntunan dan tradisi agama mereka. Apakah ini adalah radikal dan berbahaya?

Jangan-jangan pemerintah kita sudah jatuh dalam perangkap Islamphobia. Ini adalah sejenis hate-speech yang dipromosikan oleh jaringan kelompok-kelompok yang menyamakan ketaatan dalam agama yang meningkat dengan kecenderungan kekerasan. Logika yang kabur atau sengaja dikaburkan ini kemudian mendasari pemahaman banyak pemerintah negara di seluruh dunia dalam memandang islam.

Begitu meresapnya narasi ini, hingga jika Anda adalah warga negara di sebuah negara mayoritas muslim, Anda mungkin gak akan melihat satu kebijakan pun yang dibuat untuk berpihak kepada golongan Anda. Narasi Islamphobia mendorong negara -yang terpengaruh nilai-nilai liberal barat–untuk menyudutkan dan kemudian merusak posisi orang-orang Islam yang tidak moderat hingga seolah-olah tidak ada tempat untuk mereka dalam tatanan sebuah negara. Secara keyakinan mereka dituduh radikal, secara sosial mereka dituduh intoleran, secara pandangan mereka dianggap ekstrem dan secara politik mereka dituding makar karena dinilai bermaksud mengubah ideologi negara.

Pemerintah cukup cerdik dengan mengambil sekutu dari Islam arus-utama yang moderat untuk memberikan legitimasi atas usaha menekan dan mengendalikan segala bentuk aktivisme sipil dari orang-orang yang dituduh radikal ini. Organisasi agama seperti NU sebenarnya bersifat apolitis, tetapi kini mereka punya keberpihakan politik ke pemerintah. Bagi NU, mereka tidak merasa diperalat, karena sejak awal mereka punya agenda dan visi yang sama, ditambah kecemasan bahwa mereka tak lagi menjadi arus-utama dalam kehidupan sosial-keagamaan di Indonesia, maka
terciptalah sebuah koalisi agama-politik yang saling menguatkan. Semuanya demi menghadapi musuh bersama: kaum radikal.

Perkara apa dan siapa kaum radikal ini, bagaimana mengidentifikasi mereka? Benarkah mereka memiliki motivasi politik? Atau malah bermaksud menguasai Indonesia–itu hal lain. Masih ingat tentang fatwa penyebutan kafir lalu? Kita bahkan tidak tahu kepada siapa fatwa itu atau apa urgensinya, tapi –sekali lagi– itu hal lain.

Yang ironis dari semua ini, orang-orang yang dicurigai memiliki paham radikalisme dan ekstrimisme kerap disebut berasal dari ideologi wahabi, Sebuah aliran reformasi keagamaan yang juga berkoalisi dengan kekuasaan saat itu, untuk bertindak agresif dan tanpa kompromi memerangi muslim lainnya. Saat ini, kita bisa melihat pola kerja “ulama-umara” yang sama meski dengan idologinya berbeda. Strageinya pun serupa: dukungan finansial kepada organisasi agama arus-utama, penguasaan institusi sosial,bisnis dan media serta prinsip kedaruratan yang cenderung menghalalkan segala cara…

Pertanyaannya, siapa yang bisa menjamin koalisi ini tidak akan menggunakan kekerasan struktural kepada orang-orang yang, celakanya, selalu distigmakan radikal ini?

 

Penulis : Randu Alamsyah

Penanggung Jawab : S.A. Lingga