Jurnalisme Kepemimpinan: The Real Truth of Journalism

oleh -219 views

Selama era modern berlangsung, salah satu yang memimpin manusia adalah atmosfer jurnalistik yang menyentuh mereka melalui media. Media tidak sekadar turut memimpin publik, rakyat atau masyarakat. Bahkan juga bisa memimpin para pemimpin. Media mampu mempengaruhi atau bahkan mengendalikan keputusan-keputusan Kepala Negara, jajaran Pemerintah, bahkan lembaga-lembaga hukum.

Salah satu kemungkinan kesadaran yang bisa dibangun pada Peringatan HPN hari ini adalah jangan sampai dunia jurnalistik dan media diposisikan atau memposisikan diri sebagai yang dipimpin, apalagi yang dikontrak, dikendalikan, bahkan mengabdi kepada yang tidak seharusnya ia abdi. Wartawan bukan bawahan Pemerintah, Presiden, pengusaha atau siapapun. Yang dipatuhi oleh wartawan adalah the real truth of journalism, kebenaran sejati dalam tata kehidupan manusia, masyarakat dan bangsa.

Jurnalisme adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Sejarah tanpa aktivitas jurnalistik adalah chaos. Boleh tidak ada media, cetak, tayang atau online, tapi setiap kurun peradaban selalu memiliki alat dan mekanismenya sendiri untuk mengelola informasi dan komunikasi. Itu urat saraf silaturahmi, kesaling-bersambungan nilai-nilai untuk keselamatan bersama masyarakat di muka Bumi.

Kejernihan Jurnalismelah yang mengontrol apakah organ-organ sejarah lain seperti Pemerintahan, Parpol dan Perwakilan Rakyat terlanjur hidup dengan ratio dan logic yang tepat, ataukah kabur dan rancu. Tetapi the real truth of journalism adalah nyawa kebersamaan manusia di bumi. Yang berperan Jurnalis boleh bermutu atau tidak memenuhi syarat. Tetapi lembaga Jurnalisme dan subjek Jurnalis tetap merupakan keniscayaan. Pemimpin boleh Raja, Kaisar, Khalifah, Sultan, Perdana Menteri atau Presiden–tetapi keniscayaan Pemimpin masyarakat tidak bisa sirna. Presidennya boleh dahsyat, boleh konyol, boleh pah-poh, boleh tidak punya kelayakan menurut kelengkapan berbagai kriteria dan pertimbangan–tetapi keniscayaan Presiden tidak boleh hilang.

Jurnalisme adalah kontinuasi modern dari nubuwah, fungsi naba` para Nabi, tugas penyampaian kabar berita kebenaran. Wartawan adalah Muballigh, petugas tabligh, penyampai kebenaran. Meskipun harus hati-hati dan waspada kalau para Jurnalis Muballigh juga berfungsi Da’i atau Juru Da’wah: memanggil atau memengaruhi publik untuk bergabung ke dalam suatu kepentingan (politik). Jurnalisme ada salah satu dimensi penting dari Kenegarawanan.

Karena the real truth of journalism adalah nubuwah, maka wartawan selalu jujur dan adil terhadap fakta, itulah idealisme Jurnalis. Sportif dan tidak manipulatif terhadap kenyataan sejarah, itulah karakter Jurnalis. Selalu mengolah realitas pada posisi independen, dengan akurat, objektif, lengkap, adil dan seimbang. Itulah kualitas utama Insan Pers. Idealisme harga mati. Tidak bisa ditawar oleh kepentingan politik suatu kelompok. Tidak bisa dibeli oleh kekayaan Dewa, Naga maupun Raksasa. Sepanjang the real truth selalu ada di genggaman tangan kaum Jurnalis, maka dalam situasi se-chaos apapun, mereka selalu survive, bahkan revive. (bersambung)

Sumber : caknun.com

Pembaca setia kalselpos.com download aplikasi versi android kami di Play Store ==>
https://play.google.com/store/apps/details?id=apps.kalselpos

Slider

Facebook Comments