Hari Pers Nasional – Pers Harus miliki Standar Kualitas Kinerja yang Tinggi

oleh -390 views

Dalam memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada 9 Februari, refleksi yang paling sering dimunculkan oleh awak media adalah seputar pertanyaan tentang tantangan apa yang paling aktual yang dihadapi pers di Tanah Air.

 

Kalselpos.com – Dari tahun ke tahun, sejak Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 digulirkan, ancaman terhadap eksistensi dan kemerdekaan pers tak lagi datang dari penguasa. Hak membreidel pers dengan membatalkan surat izin usaha penerbitan pers yang digunakan oleh rezim Orde Baru untuk melanggengkan kuasanya telah disingkirkan.

Ternyata, ancaman itu bukannya hilang sama sekali. Tentu bukan lagi eksistensi pers yang terancam, tapi kemerdekaan berekspresinya. Sekelompok massa pun sempat melakukan intimidasi dengan menduduki kantor media massa.

Dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan faedah pers yang merdeka bagi kemaslahatan sosial, aksi massa mengintimidasi awak pers pun semakin berkurang.

Kemerdekaan pers pun sempat terancam oleh semakin berkuasanya pemilik modal yang mengintervensi awak redaksi. Namun, ancaman-ancaman ini, kecuali pembreidelan, mudah diatasi dengan berlakunya hukum kompetisi dunia kapitalisme.

Artinya, selama hak setiap orang untuk bebas menerbitkan media dan berekspresi lewat media massa dijamin, pemilik modal yang mengintervensi redaksi untuk menyuarakan hanya kepentingannya, akan disaingi oleh kompetitor-kompetitor barunya.

Di era kemajuan teknologi informasi yang menyediakan banyak kanal untuk menyuarakan pikiran, opini dan fakta sekarang ini, tantangan yang berfokus pada kebebasan pers boleh dibilang sudah teratasi.

Jika tantangan eksistensial itu sudah tak lagi jadi ancaman pers, tantangan yang lebih teknis agaknya perlu menjadi perhatian para pemangku kepentingan pers. Tantangan itu tak lain adalah ikhtiar meningkatkan standar kualitas kinerja awak media.

Kasus-kasus pengaduan masyarakat kepada Dewan Pers pada dasarnya bersumber pada standar kualitas pers yang belum cukup tinggi secara merata, baik di lingkungan pers yang terbit di Ibu Kota maupun di daerah-daerah.

Setidaknya, panduan untuk meningkatkan standar kualitas kinerja pers yang tinggi bisa mengacu kepada poin-poin krusial yang diatur dalam Kode Etik Jurnalistik.

Standar kualitas kinerja pers itu bisa ditinjau dari tiga aspek yakni konten, yang menyangkut informasi substansial yang harus disampaikan dengan akurasi yang tinggi, aspek bahasa dengan kesanggupan jurnalis untuk menyampaikan konten dengan bahasa yang ringkas, mudah dipahami dan mematuhi kaidah bahasa serta aspek jurnalistik.

Facebook Comments