Caknun – Maiyahan – Gerakan Politik Resolusi Rendah

oleh -630 views

Antara resolusi dan revolusi diri, beda huruf “s” dan “v”, menampilkan makna yang berbeda. Silakan ditemukan keterkaitan antara keduanya. Namun, satu hal yang perlu diwaspadai, seperti disampaikan Mbah Nun, sepandai apapun kita hendaknya tidak minteri siapapun. Ini salah satu bentuk revolusi kesadaran diri agar pixel dan resolusi kita, pelan namun pasti, meningkat.

Gawan bayi orang yang memiliki resolusi tinggi akan mudah terjebak sikap sombong, gumedhe, atau minteri orang lain. Mudah menyalahkan pihak yang berbeda—bahkan fenomena yang berakhir sebagai tragedi: untuk menyatakan kelompoknya benar harus menyalahkan pihak lain, merupakan akumulasi antara resolusi rendah dan hilangnya sikap tawadlu’.

Mbah Nun lantas mengungkapkan sabda Nabi, al-Islaamu ya’luu wa laa yu’laa ‘alaihi, Islam itu unggul dan tidak terungguli, hendaknya disikapi dengan hati yang tawadlu’ dan bijaksana. Keunggulan resolusi Islam bukan alasan terhadap pembenaran untuk merendahkan “agama” selain Islam atau menyerang sesama orang Islam atau mengumumkan diri sebagai kelompok yang paling benar. 

Memahami hal itu kita bisa membuka kembali catatan tentang misalnya, terminologi ruang dapur dan ruang tamu untuk memastikan konteks ibadah mahdloh dan ibadah muamalah. Catatan yang lain, misalnya potensi dan prestasi, personalitas dan identitas, sprint dan maraton, akan membantu kita mengukur resolusi diri. Pemahaman tentang potensi dan prestasi akan mempengaruhi daya serap kita terhadap suatu objek, baik di dalam atau di luar diri kita. Mbah Nun kerap bertanya, “Shalat itu potensi atau prestasi? Menjadi Sarjana itu potensi atau prestasi?” Akurasi dari jawaban tersebut akan menunjukkan tingkat resolusi kita. 

Tema Resolusi semakin gamblang dijelaskan oleh Mbah Nun tatkala Beliau menyarankan agar tidak membandingkan mana yang lebih unggul antara burung dan ikan? “Burung yang pandai terbang jangan dibandingkan dengan ikan yang pandai berenang,” saran Mbah Nun. “Resolusi wilayah burung tidak lantas lebih unggul dari resolusi wilayah ikan, atau sebaliknya. Adanya perbedaan tidak untuk ditemukan siapa yang lebih unggul atau siapa yang tidak unggul.”

Persoalannya, saat ini kita dikepung oleh resolusi rendah. Mata yang tugas resolusinya untuk melihat, jantung untuk memompa darah, kaki untuk berjalan, gigi untuk mengunyah—semua anggota tubuh itu diminta agar menjalankan satu fungsi yang sama, yakni bernapas. Mengapa? Karena menurut cara pandang resolusi rendah, bernafas adalah satu-satunya fungsi anggota badan.

Bagaimana sudut pandang itu digunakan untuk melihat fenomena hari ini? “Karena resolusinya rendah, semua disuruh (berfungsi) sama,” ujar Mbah Nun. Maiyah disuruh jadi parpol, lalu harus mendukung salah satu calon presiden. Jangan mentang-mentang kita hidup di entitas politik atau tengah berada di tahun politik semua dikondisikan, didorong-dorong, dijebak-jebak dalam gerakan politik praktis. Menjalani hidup bernegara memiliki banyak dimensi, lapisan, struktur, spektrum yang tidak bisa diperas apalagi dipersempit sekadar urusan pilihan presiden. Memahami bagaimana proses pemilihan pemimpin berlangsung masih sangat bergantung resolusinya.

Marilah kita belajar kepada jari-jari di tangan kita. Gagasan penciptaan lima jari itu mohon tidak disepelekan. Setiap jari memiliki akurasi fungsinya masing-masing. Fungsi ibu jari berbeda dengan jari telunjuk dan jari tengah. Jari manis menjalani fungsi yang berbeda dengan jari kelingking. Demikian seterusnya, hingga kita tiba pada silang waktu ketika resolusi rendah kepentingan politik merampas akurasi fungsi jari-jari lalu menyodorkan politik tangan menggenggam. Ya, politik kepalan tangan adalah politik resolusi rendah.[]