Caknun- Maiyahan – Akhlak Dilatihkan, Bukan Diajarkan

oleh -286 views

Ketika tiba para narasumber merespons paparan semua kelompok, Pak Syuhada dari lembaga Al-Hikmah menggarisbawahi dan mengafirmasi ihwal akhlak ini dengan menyampaikan bahwa porsi pelajaran akhlak ini makin berkurang dalam kurikulum pendidikan formal saat ini. Karena itulah, Ia mengajak agar lembaga-lembaga pendidikan memberi perhatian yang serius terhadap pembentukan akhlak para siswa. 

Selepas para narasumber menanggapi, kemudian Mbah Nun ikut ambil urun memberikan pandangan. Menurut Mbah Nun, akhlak tidak bisa diajarkan secara kognitif. Sebaliknya, yang perlu dilakukan adalah melatihkan akhlak itu pada diri siswa atau anak-anak. “Buatlah paket-paket latihan akhlak. Anak-anak kita latih punya pengalaman berakhlak. Diajak ke panti jompo, ke pasar, ke laut, dan lain-lain. Akhlak tak bisa diajarkan, tapi dilatihkan.”

Dalam makna lebih luas dan substansial, Mbah Nun mengingatkan bahwa soal akhlak ini sebenarnya intinya adalah berpikir skala prioritas. Contoh berpikirnya seperti ini, “Kalau makan, yang utama adalah nasinya (menu pokok). Kerupuk bisa sekunder. NU yang primer Islamnya, bukan NU-nya. Begitu pula dengan Muhammadiyah. Di semua hal, kita perlu berpikir skala prioritas.” Dengan contoh ini, Mbah Nun memberi sisi lain dari perspektif dalam membangun akhlak. Jika orang punya skala prioritas, dia akan terdorong punya akhlak yang baik, sebab dia tahu mana yang harus diutamakan. 

Ini berkaitan dengan struktur ilmu hidup yang teman-teman Jamaah Maiyah tentunya sudah memahaminya. Bahwa di atas fikih ada akhlak, dan di atas akhlak terdapat taqwa (cinta, kebijaksanaan). Sebagai contoh, seorang hakim yang tidak terpatok pandangannya pada pasal-pasal, akan punya akhlak dan kebijaksanaan misalnya terhadap seseorang nenek miskin yang terkena suatu pasal yang mengakibatkan dia harus bayar denda. Ia bisa mengambil akhlak dan kebijaksanaan dengan mengajak orang lain membantu nenek itu membayar denda. Demikian, Mbah Nun membuka dimensi-dimensi akhlak yang lebih luas yang jarang kita pikirkan. 

Juga perlu diingat bahwa titik tekan akhlak bahwa ia lahir dari dari dalam pribadi seseorang, sedangkan hukum lebih banyak merupakan pembebanan atau kewajiban dari luar diri. Maka, Mbah Nun juga ingatkan satu filosofi psikologis mengenai kewajiban, yakni kewajiban itu bisa kita pahami sebagai upaya kita dilatih melakukan hal-hal yang kita kurang suka atau kurang cenderung dan sebaliknya larangan adalah kita dilatih menahan atau tidak melakukan sesuatu yang kita ingin atau tergoda untuk melakukannya. “Kalau kita tahu asal-usul ini, insyaAllah anda akan sungguh-sungguh dalam beribadah,” kata Mbah Nun. 

Apa lagi yang harus dipelihara? Jawaban para jubir kelompok meliputi ibadah kepada Allah, keanekaragaman di Bulungan (ada etnik Jawa, Borneo, Bugis, dll.), toleransi, paseduluran (apalagi sebagian dari mereka merasa sebagai perantauan), hingga nilai-nilai keluarga. Adapun yang harus dihapuskan atau dihilangkan, kata jubir kelompok ketiga dengan lantang, adalah koruptor. Cocok! hehe. Mengutip Sengkuni2019-nya Mbah Nun, jubir kelompok ini, menegaskan yang harus dihilangkan adalah sengkuni-sengkuni. 

Itulah beberapa hal yang bisa kita petik dari proses workshop dengan Jamaah yang oleh Mbah Nun disebut proses belajar regenerasi, yang dalam hal ini Mbah Nun mengajak Pal Kapolres terlibat langsung. Satu lagi yang perlu kita ingat dari paparan Mbah Nun adalah bahwa ayat-ayat al-Qur’an itu hendaknya berjodoh dengan kecerdasan, imajinasi, kepekaan, dan asosiasi kita. Hal itu Mbah Nun sampaikan sesudah merespons dan menggali pemaknaan atas satu dua ayat yang dikutip para jubir kelompok. Di sini, Mbah Nun juga memberi contoh dengan menguraikan pemaknaannya akan surat an-naas, yang di situ terdapat ilmu mengenai pengayoman dan kepemimpinan, bahwa bakunya kepemimpinan adalah pengayoman.

Facebook Comments