Toko Berjalan Pecalungan Batang, Lebarkan Sayap Terdampak TMMD

  • Whatsapp

BATANG, kalselpos.com – Utilitas pembangunan jalan yang dilakukan pemerintah daerah melalui TNI dan segenap Wong Batang, kini juga dirasakan Sobirin (35) penjual pakaian keliling Rt. 01 Rw. 02 Desa/Kecamatan Pecalungan. Mengaku mengalami peningkatan omset dari 90 menjadi 120 ribu rupiah.

Setiap hari toko berjalannya menempuh rute dari Desa/Kecamatan Pecalungan-Desa Adinuso Kecamatan Reban dan desa-desa di wilayah Kecamatan Tulis, desa tetangga Durenombo Kecamatan Subah (lokasi TMMD Reguler 103 Kodim 0736 Batang).

Mendengar ada hajatan besar di sasaran TMMD tersebut, ditambah ada ratusan prajurit TNI disana, membuatnya banting setir dan menjajakan dagangannya masuk ke Durenombo. “Toko mlaku” atau toko berjalan miliknya menggunakan motor untuk menjangkau hingga ke pelosok rumah-rumah penduduk setempat.

Dikatakannya, “Hari ini saya mulai berjualan disini Pak, untuk ngalap berkah pembeli. Saya kemari karena ada hajatan besar di Durenombo. Besok saat penutupan TMMD saya juga akan mangkal di samping lapangan desa tempat upacara. Barangkali Bapak Bupati mampir ke toko mlaku saya.” ungkapnya kepada Serda Muchibin Babinsa Koramil 12 Tulis yang diperintahkan Dandim/Dansatgas TMMD mencari berita terkait segala bentuk pembangunan maupun aspek masyarakat. Kamis (1/11/18).

Dengan adanya pengaspalan jalan sepanjang 2,3 kilometer, yang menghubungkan langsung dari Dusun/Desa Durenombo ke Dusun Durensari serta Desa/Kecamatan Pecalungan dan masih dibangun, Sobirin berencana melebarkan kelilingnya ke tempat tersebut kedepannya, karena laris manis diserbu warga terutama Ibu-ibu dan anggota Satgas TMMD.

Untuk diketahui, desa sasaran pembangunan TNI itu tergolong desa pinggiran di Kabupaten Batang, sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani maupun berkebun. Jauh dari pusat kota dengan jarak tempuh 20 Km, dan pusat pemerintahan kecamatan 8 Km 15 menit, sehingga jika ada yang menjajakan barang-barang kebutuhan rumah tangga maupun konveksi, maka otomatis laku, mengingat jika belanja ke kota atau Pasar Subah memerlukan tambahan biaya transportasi. Selain itu, bisa bon/utang dan dicicil membuat dagangan pemuda tersebut sangat dinikmati warga setempat. (spj)

 

Penulis : Musthafa/ Rel
Editor : Aprie
Penanggung Jawab : S.A. Lingga

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.