Selamat Datang Di Website Resmi Kalsel Pos

Setengah Roh Yang Menghidupi

Setengah Roh Yang Menghidupi

BANJARMASIN K.Pos Online – Lahir dan besar di lingkungan kesenian tradisional tepatnya di desa Panggung, Barikin Kalimantan Selatan. Dunia seni yang pertama digeluti sejak kecil adalah seni tari tradisi kuda gipang. Seiring perjalanan waktu kemudian belajar karawitan Banjar yang membuatnya menjadi penabuh gamelan untuk iringan wayang gung, wayang kulit dan kuda gipang.

Adalah Novyandi Saputra, seorang Komposer, Konseptor Seni Pertunjukan, dan Etnomusikolog, Studi S1 Program Studi Sendratasik FKIP ULM Banjarmasin. Menurutnya, pengalaman berkesenian makin terasah ketika akses yang begitu dekat ke Taman Budaya Banjarmasin sebagai ruang kreatif sehingga semakin membuka fikiran terhadap kesenian.

“Kemudian saya melanjutkan studi S2 di Penciptaan dan Pengkajian Seni ISI Surakarta, makin menambah wawasan bermusik saya dengan sikap ekploratif terhadap instrumen musik dengan banyak bersinggungan langsung dengan para seniman-seniman besar Indonesia,” kata pria kelahiran Panggung, 5 Desember 1991.

Perjalanan musikal yang dialami Novy, sebagai seorang komposer membuat dirinya liar dalam membuat komposisi-komposisi musik yang berlatar gamelan Banjar. “Karya-karya musik saya lahir dari konsep-konsep gamelan Banjar. Kesenangan bereksperimen dalam setiap karya melahirkan diskursus-diskursus bagi para penonton yang pernah mendengar dan menyaksikan karya saya,” tuturnya.
Baginya, karya harus menciptakan sebuah ruang dialektika dan multi-tafsir karena dengan begitu karya akan selalu hidup dan berkembang. “Seni bagi saya seperti setengah roh yang menghidupi, seperti pahitnya kopi yang selalu membuat saya terjaga,” papar Novy.

Selanjutnya, kegelisahan yang hadir dalam benak dirinya adalah masih seringnya kesenian dianggap tertinggal dengan kesenian daerah lain. Padahal stigma semacam ini adalah penghambat kemajuan. Kurangnya bersinggungan dan seakan terlalu euphoria dengan ruang sendiri membuat karya-karya seni di banua hanya menjadi raja di negeri sendiri (Kalimantan Selatan).

Hal semacam ini harus segera difikirkan bersama. Selain itu juga sangat heran dengan perilaku seniman yang sangat ketergantungan dengan bantuan pemerintah, padahal seniman seharusnya dengan daya kreatifitasnya mampu melahirkan karya-karya yang konsisten setiap waktunya. Ada ataupun tidak ada bantuan pemerintah. Pemerintah cukup diposisikan sebagai pendamping, karena tidak semua institusi pemerintahan mampu memberikan apa yang seniman inginkan. Jadi seniman harus cerdas membuka pasar sendiri.

Hal semacam itulah yang akhirnya membuat Novy dan beberapa teman-teman membentuk NSA Project Movement, yaitu sebuah kelompok pergerakan budaya melalui seni yang berbasis seni pertunjukan. “Bergerak secara independen dengan semangat kolektif kami berharap mampu memberikan sebuah wacana-wacana baru yang bersifat positif dalam seni pertunjukan Kalimantan Selatan,” pungkasnya. (awi)

Penulis : Wulan
Editor : Atiet Wulandari
Penangungjawab : Lingga

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply